KUTAI TIMUR – Kebijakan rasionalisasi atau efisiensi anggaran yang diterapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tahun ini mulai memberikan dampak nyata pada sektor pelayanan publik. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kutim, sebagai garda terdepan administrasi warga, tak luput dari imbas kebijakan tersebut.
Program layanan keliling atau yang populer dengan sebutan “jemput bola”, yang selama ini menjadi primadona masyarakat, kini menghadapi kendala operasional. Program ini sejatinya sangat vital mengingat kondisi geografis Kutai Timur yang sangat luas, di mana banyak warga di pelosok desa kesulitan mengakses kantor dinas di pusat kota.
Kepala Disdukcapil Kutim, Jumeah, secara terbuka mengungkapkan kondisi dilematis yang dihadapi instansinya. Ia mengakui bahwa intensitas tim lapangan yang biasanya aktif bergerak ke kecamatan, sekolah-sekolah, hingga desa terpencil untuk melakukan perekaman e-KTP dan penerbitan dokumen lainnya, kini harus dikurangi secara signifikan.
“Dulu hampir setiap bulan tim kami turun ke lapangan, menyisir sekolah dan kecamatan untuk memastikan warga memiliki dokumen. Tapi karena adanya kebijakan efisiensi anggaran, tahun ini kegiatan itu terpaksa harus kami batasi frekuensinya,” ujar Jumeah menjelaskan situasi terkini.
Pengurangan intensitas ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun, Jumeah menegaskan bahwa keterbatasan dana tidak serta-merta melunturkan semangat pelayanan. Disdukcapil tetap berupaya menjaga kualitas layanan tetap optimal, meskipun dengan ruang gerak yang lebih sempit. Pihaknya kini harus lebih selektif dan strategis dalam menentukan titik lokasi layanan jemput bola agar anggaran yang terbatas dapat terserap seefektif mungkin.
Di sisi lain, Jumeah menaruh harapan besar agar kondisi ini tidak berlangsung lama. Ia berharap pada tahun anggaran berikutnya, dukungan finansial untuk program jemput bola dapat kembali dipulihkan. Hal ini penting agar hak sipil warga Kutim untuk memiliki dokumen kependudukan dapat terpenuhi tanpa terhalang biaya transportasi ke kota.
“Kami tetap siap melayani dengan sepenuh hati. Namun tentu kami sangat membutuhkan dukungan anggaran agar program jemput bola bisa kembali digencarkan seperti sedia kala,” harapnya menutup pembicaraan. (Adv/sl)














