EKSPOSPEDIA.CO.ID – Indikator keberhasilan UMKM setelah mendapatkan pendampingan dari Dinas Koperasi dan UKM adalah kemampuan mereka untuk meningkatkan kualitas mutu produk, jumlah kuantitas produksi, dan omset usaha yang naik secara signifikan.
Dinas Koperasi dan UKM melalui kepala bidang Pemberdayaan Usaha Mikro (PUM) Pasombaran, menjelaskan bahwa indikator ini menjadi tolak ukur utama apakah program pendampingan yang diberikan efektif atau tidak, karena tujuan utama pendampingan adalah membantu UMKM berkembang dan semakin kuat.
“Kita tidak hanya melihat jumlah UMKM yang tercatat dalam data, tapi juga seberapa jauh mereka bisa berkembang setelah mendapatkan bantuan kita,” ujar Pasombaran.
Dia memberikan contoh kasus UMKM yang memproduksi amplang batu bara di Kecamatan Sangatta Utara: setelah mendapatkan pendampingan kualitas dan pemasaran, mereka berhasil meningkatkan kualitas produk sehingga bisa diekspor ke Malaysia, yang berdampak pada peningkatan omset hingga 50% dalam waktu 6 bulan.
Contoh lain adalah UMKM yang memproduksi coklat di Desa Karangan Ilir, setelah mendapatkan mesin produksi baru dan pelatihan teknik pengolahan, mereka berhasil meningkatkan kuantitas produksi hingga 30% dan menjual produknya ke beberapa kota di Kalimantan Timur.
Pasombaran menambahkan bahwa tim pendampingan juga melakukan evaluasi secara teratur terhadap pelaku UMKM yang telah mendapatkan bantuan, untuk memastikan bahwa mereka terus memelihara peningkatan yang dicapai.
“Dengan indikator ini, kita bisa mengevaluasi dan memperbaiki program pendampingan agar lebih baik dan lebih bermanfaat bagi pelaku UMKM,” jelasnya.
Hingga saat ini, lebih dari 70% pelaku UMKM yang mendapatkan pendampingan telah menunjukkan peningkatan dalam kualitas, kuantitas, atau omset usaha. (Adv/sl)














